• Hari ini

    January 2011
    M T W T F S S
    « Dec   Mar »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Salam

    Assalamu'alaikum Wr. Wb
    Selamat Datang.
    Blog ini merupakan media berbagi ilmu dan informasi terutama berkaitan dengan kajian hukum Islam dan ilmu falak. Pengelola mengundang peminat dan penggiat ilmu ini untuk mendiskusikan berbagai hal. Untuk itu besar harapan pengelola pada pengunjung adanya kritikan, saran dan masukan. Terimakasih atas kunjungannya.
    Wassalam dari Bakhtiar, M.Ag

  • Kategori Tulisan

  • Arsip

Fenomena Umur Zulhijjah

Hampir di setiap kalender yang beredar di tengah kita saat ini perhitungannya didasarkan pada hisab ‘urfi. Pada kalender tersebut umumnya hari-hari tertentu seperti hari raya idul fitri dan idul adha diberi warna merah. Warna tersebut menandakan hari penting dan libur nasional. Selain adanya warna, dibawah kalender masehi juga terdapat kalender hijriyah dan sebagian ada pula tahun Jawa. Tentu, bagi kita umat Islam kelender hijriyah memiliki arti tersendiri karena tidak hanya terkait dengan masalah agenda harian tetapi yang sangat dan amat penting adalah tersangkut  persoalan ubudiyah terutama menentukan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Di mana didalamnya terdapat pelaksanaan ibadah puasa, berhari raya dan berhaji.

Hasil studi yang penulis lakukan menunjukan bahwa ternyata yang beredar banyak di tengah masyarakat muslim saat ini adalah kalender yang tidak memiliki relevansi dengan ibadah. Namun, kalender tersebut terlanjur dijadikan acuan terutama yang berkaitan dengan masalah tiga ibadah pokok di atas. Hampir tiap tahun terjadi benturan pendapat sesama muslim ketika menghadapi memulai dan mengakhiri ibadah di bulan-bulan tersebut. Bersamaan dengan itu pula, banyak tuduhan yang tertumpu pada ulama, organisasi Islam dan terutama ilmuan falak. Berkaitan dengan sistem hisab ’urfi dan ibadah insya Allah pada tulisan lain akan dikemukakan.

Salah satu faktor krusial yang penulis lihat dalam persoalan ini adalah soal pemahaman kalender yang selama ini terlanjur untuk mempersamakannya secara keseluruhan. Bila diamati secara agak arif, akan terlihat bahwa pencantuman kalender hirjriyah bagian bawah dan penulisannya jauh lebih kecil dari kalender masehi umur bulan rata-rata 29 hari dan 30 hari. Usia bulan tersebut berjalan secara kontinyu persis sama dengan kalender masehi. Dalam ilmu hisab kalender seperti ini biasa disebut dengan hisab’urfi.

Dalam sistem hisab seperti ini kalau dilihat agak lebih cermat lagi akan temukan kelainan khususnya umur bulan Zulhijjah. Pada bulan Zulhijah yang mendapat jatah berusia 29 hari karena merupakan bulan genap, dalam kasus-kasus tahun tertentu umurnya 30 hari. Pertanyaannya, kenapa bisa begitu?

Hisab urfi adalah salah satu metode dan menetapkan perhitungan bulan hijriah. Penghitungannya tidak didasarkan pada gerak faktual Bulan, tetapi dengan cara mendistribusikan jumlah hari dalam satu tahun kedalam bulan-bulan hijriah atas dasar pematokan usia bulan-bulan tersebut. Pada ranah praksis biasanya pematokan tersebut  dilakukan secara berselang-seling antara 30 dan 29 hari. Caranya dengan menetapkan bulan berurut ganjil dan bulan genap. Bulan yang kebagian nomor urut ganjil umurnya 30 hari sedangkan yang berurut genap dipatok menjadi 29 hari.

Oleh sebab itu, bulan 1 (Muharam), bulan 3 (Rabiul Awal), bulan 5 (Jumadil Awal), bulan 7 (Rajab), bulan 9 (Ramadan), dan bulan 11 (Zulqaidah) adalah bulan-bulan yang mendapat penetapan usia 30 hari. Sedangkan bulan 2 (Safar), bulan 4 (Rabiul Akhir), bulan 6 (Jumadil Akhir), bulan 8 (Syakban), bulan 10 (Syawal) dan bulan 12 (Zulhijah) adalah bulan-bulan yang ditetapkan berusia 29 hari.

Khusus bagi bulan Zulhijah seperti yang disebutkan sebelumnya usianya tidaklah kontinyu seperti bulan-bulan yang lain melainkan kadang 29 hari dan bisa juga 30 hari. Untuk tahun pendek (basitat) mendapat jatah 29 hari, sementara tahun panjang (kabisat) usianya ditetapkan 30 hari. Secara sederhana penetapan metode ini didasarkan pada hadis Nabi saw yang menyatakan bahwa “Bulan itu begini begini. Maksud beliau bulan itu kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Yang menjadi patokan betul dalam konteks inilah umur bulan Ramadan yang kebetulan berada pada urutan ganjil (bulan 9). Bulan ini, selain Syawal dan Zuhijah  merupakan bulan yang cukup mendapatkan perhatian hampir semua umat muslim karena terkait dengan ibadah puasa, berhari raya dan berhaji. Oleh karena terkait dengan masalah ibadah pengguna sistem hisab ini menetapkan umur Ramadan menjadi 30 hari. Ini dilakukan dalam kerangka kehati-hatian (ikhtiyat).

Selain hadits di atas yang digunakan sebagai dasar penetapan, juga dibangun atas logika kalau ditetapkan umur Ramadhan 29 hari ada kemungkinan puasanya berkurang  dari yang mestinya 30 hari. Inilah patokan yang diberikan pada bulan yang berurut nomor genap otomatis usianya 29 hari.

Secara falak metode hisab ‘urfi yang seperti didasarkan atas perhitungan rata-rata hari dalam satu bulan dan rata-rata hari dalam satu tahun. Rata-rata hari dalam satu bulan menurut hisab urfi adalah 29,5 hari 44 menit dan ini merupakan umur dasar bulan. Dalam usia yang seperti itu, masih menyisakan sekitar 2,8 detik. Sisa ini kelihatannya diabaikan saja karena diasumsikan angka tersebut sangat kecil dan tidak begitu berarti. Atau dengan bahasa lain dapat dikatakan bahwa penetapan kelender berdasarkan hisab ini didasarkan pada perjalanan sinodis Bulan di langit mengelilingi bumi. Dimana perjalanan tersebut berlangsung  selama + 29,5 hari 44 menit 2,8 detik (29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik).

Berdasarkan inilah dipatok rata-rata hari dalam satu tahun adalah 354 hari 528 menit. Umur ini didapatkan dari hasil 29,5 hari x 12 kemudian ditambah 44 menit x 12. Hasilnya didapatkan selama 354 hari ditambah 528 menit (354 hari 528 menit). Oleh karena jumlah hari yang menjadi usia bulan itu haruslah berupa bilangan utuh, bukan pecahan seperti 29,5 hari, maka caranya melalui mengalikan 2 sehingga hasilnya menjadi 59 hari. Ini usia dua bulan. Lalu yang 30 hari lagi didistribusikan kepada bulan ganjil dan yang 29 hari kepada bulan genap. Jadi, rata-rata usia bulan 29,5 hari itu, untuk bulan ganjil dijadikan 30 hari dengan mengambil setengah hari dari rata-rata usia bulan.

Untuk umur bulan yang bernomor urat genap ditetapkan  29 hari dengan cara mengurangi setengah hari dari usia rata-rata bulan. Dengan demikian jumlah hari dalam satu tahun hijriah seluruhnya adalah 6 bulan ganjil x 30 hari ditambah 6 bulan genap x 29 hari sama dengan 354 hari. Inilah jumlah hari dalam satu tahun hijriah menurut hisab urfi. Jumlah hari setahun ini lebih dikenal dengan tahun pendek (basitat).

Maka setelah pengalian tersebut di atas, masih ada sisa  44 menit, dan itu terus terjadi pada setiap bulannya. Kelebihan tersebut jika digenapkan menjadi satu tahun, maka akan menjadi 528 menit. Apalagi kalau digenapkan selama  3 tahun jumlahnya akan membengkak menjadi lebih besar (528 x 3 =1584 menit. Satu hari =1440 menit). Sisa yang demikian dalam tempo tiga puluh tahun akani menjadi 15840 menit (30 x 528 = 15840), atau genap 11 hari (15840 : 1440 =11 hari). Artinya, hasil pengalian tersebut akan tersisa 11 hari ini. Sisa tersebut juga  haruslah didistribusikan ke dalam tahun-tahun selama periode 30 tahun dengan catatan  masing-masing tahun ditambahkan satu hari. Diantara bulan yang mendapat jatah tambahan 1 hari dalam suatu tahun itu adalah bulan penutup tahun, yaitu Zulhijah. Atas dasar inilah umur bulan Zulhijah kita temukan pada tahun-tahun tertentu usianya menjadi 30 hari. Cara inilah yang kemudian disebut dengan  tahun kabisat.

Diantara tahun-tahun yang mendapatkan tambahan 1 hari dalam periode 30 tahun itu adalah tahun-tahun yang angkanya merupakan kelipatan 30 ditambah 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, dan 29. Misalnya kelipatan 30 yang pertama dari tahun hijriah adalah tahun 30 H (zaman Khalifah Usman Ibn Affan). Maka tahun kabisatnya adalah tahun 32, 35, 37, 40, 43, 46, 48, 51, 54, 56, dan 59. Sekarang kita telah melewati kelipatan 30 yang ke-47. Kelipatan 30 yang ke-47 itu adalah tahun 1410 H. Maka tahun kabisatnya adalah 1412, 1415, 1417, 1420, 1423, 1426, 1428, 1431, 1434, 1436, dan 1439. Kelipatan 30 yang ke-50 dari tahun hijriah adalah tahun 1500 H yang akan datang. Maka tahun kabisatnya adalah tahun 1502, 1505, 1507, 1510, 1513, 1516, 1518, 1521, 1524, 1526, dan 1529. Begitulah selanjutnya.

Jadi, dalam periode 30 tahun terdapat 11 tahun kabisat dengan tahun basitatnya 19 tahun. Jumlah hari dalam rentang satu kelipatan 30 tahun adalah 10631 hari. Jumlah ini merupakan hasil penjumlahan 19 tahun basitat x 354 hari kemudian ditambah 11 tahun kabisat x 355 hari hasilnya 6726 hari + 3905 hari = 10631 hari.

Atas dasar itu menurut hisab urfi jumlah hari dalam satu tahun untuk tahun basitat adalah 354 hari, dan tahun basitat itu ada 19 tahun selama satu periode 30 tahun. Selain itu, jumlah hari dalam satu tahun untuk tahun kabisat adalah 355 hari, dan tahun kabisat itu ada 11 tahun dalam satu periode 30 tahun. Kemudian jumlah seluruh hari dalam satu periode 30 tahun adalah 10631 hari. Selanjutnya tahun kabisat adalah tahun-tahun kelipatan 30 ditambah 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, dan 29. Sementara umur bulan dalam 1 tahun menurut hisab urfi berselang-seling antara 30 dan 29 hari dan bulan-bulan yang bernomor urut ganjil dipatok usianya 30 hari serta bulan-bulan bernomor urut genap dipatok usianya 29 hari, kecuali bulan Zulhijah, pada setiap tahun kabisat diberi tambahan umur satu hari sehingga menjadi 30 hari.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: