• Hari ini

    January 2011
    M T W T F S S
    « Dec   Mar »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Salam

    Assalamu'alaikum Wr. Wb
    Selamat Datang.
    Blog ini merupakan media berbagi ilmu dan informasi terutama berkaitan dengan kajian hukum Islam dan ilmu falak. Pengelola mengundang peminat dan penggiat ilmu ini untuk mendiskusikan berbagai hal. Untuk itu besar harapan pengelola pada pengunjung adanya kritikan, saran dan masukan. Terimakasih atas kunjungannya.
    Wassalam dari Bakhtiar, M.Ag

  • Kategori Tulisan

  • Arsip

Sistem Hisab ‘Urfi

Perintah puasa bagi muslim terdapat dalam Surat Al-Baqarah 183: “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang takwa.” Ayat ini merupakan perintah bagi orang-orang yang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa selama Ramadhan. Karena itu bagi umat Islam yang tidak memiliki ”halangan atau uzur” wajib melaksanakan puasa dalam bulan Ramadhan, walau begitu masih tersimpan perbedaan pendapat dikalangan ulama berkaitan dengan kapan dimulainya puasa Ramadhan.

Perbedaan tersebut muncul akibat berbedanya ulama dalam menafsirkan hadits yang berkaitan dengan perintah melaksanakan puasa termasuk kapan diakhiri. Salah satu diantara hadits itu adalah “Puasalah kamu jika melihat bulan dan berbukalah kamu jika melihat bulan” (al-hadits).

Bagi kelompok rukyat (melihat bulan dengan mata telanjang)  penetapan awal bulan hijriah terutama awal Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah didasarkan pada penampakan hilal, yaitu  bulan sabit. Ketiga bulan tersebut sangat erat kaitannya dengan puasa, hari raya idul fitri dah haji. Walaupun bulan sabit yang ditunggu tersebut penampakannya itu sulit dilihat dengan peralatan mutakhir dan apalagi dengan mata telanjang, dan ilmu pengetahuan juga mengatakan hilal tersebut mustahil akan terlihat walau sudah berada di atas ufuk. Kegiatan rukyat tetap saja dilakukan walau sering mengalami kegagalan karena banyak faktor mungkin akibat  terhalang pandangan,  cuaca buruk, atau faktor manusianya.

Walaupun ilmu pengetahuan telah berbicara tidak mungkin akan terlihat ahli rukyat tetap berkeyakinan bila bulan sabit (hilal) tidak kelihatan pada saat matahari terbenam (ghurub), maka keesokan harinya masih diyakini sebagai bulan lama. Dengan kata lain umur bulan Sya’ban atau Ramadhan diisti’malkan (digenapkan) menjadi 30 hari.

Ahli hisab berpendapat bahwa apabila bulan sabit (hilal) sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, maka keesokan harinya sudah diyakini sebagai awal bulan baru walaupun ketinggiannya nol derajat (positif/+). Melalui metoda dan rumus-rumus yang digunakan dalam penentuan awal bulan hasilnya dapat teruji sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Kasus tahun ini (1428 H) awal Ramadhan semuanya sama kecuali beberapa kelompok kecil saja yang tetap berbeda. Perbedaan tersebut muncul karena kefanitakan terhadap sosok yang dijadikan figur tanpa mengetahui dasar dan metoda yang digunakan, atau tidak mau membuka mata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Dalam kalender umumnya tahun 2007 yang beredar saat ini umumnya menggunakan hisab ’urfi, dimana tanggal 1 Ramadhan 1428 jatuh pada hari Kamis tanggal 13 September 2007. Hal yang sama juga ditemukan dalam kalender yang dirumuskan berdasarkan hisab haqiqi. Menurut hisab hakiki, ijtimak akhir Sya’ban 1428 H terjadi pada hari Rabu  29 Sya’ban 1428 H pukul 19:46:02 Wib. Hari tersebut bertepatan dengan tanggal 13 September 2007 saat matahari terbenam di kota Padang pukul 18:19:04.21. Pada saat itu  hilal masih berada di bawah ufuk setinggi -1° 59′ 21,56. Menurut ilmu pengetahuan modern (falak dan astronomi) posisi hilal yang seperti ini mustahil dapat dirukyat. Maka dengan itu bulan Syakban 1428 H digenapkan (istiqmal) menjadi 30 hari. Artinya, hari Rabu tanggal 12 September 2007 merupakan hari yang ke-30 dari bulan Sya’ban. Dengan demikian tanggal 1 Ramadhan 1428 H berdasarkan data yang diolah dari data Ephemiris 2007 jatuh pada hari Kamis tanggal 13 September 2007.

Di lihat dari berbagai metoda dan aliran yang berkembang dalam hisab maupun ruk’yat dapat dikatakan awal Ramadhan 1428 H nyaris tidak akan berbeda. Artinya, semua umat Islam secara serentak akan mulai melaksanakan puasa pada hari Kamis tanggal 13 September 2007. Diantara metoda atau aliran tersebut adalah imkanururakyatnya Departemen Agama Republik Indonesia, wujudul hilalnya Muhammadiyah, Sullam al Nayyirin, Fath al Rauf al Manan, Al Qawaid al Falakiyah, Ittifaq Dzat al Bain, Nurul Anwar, Menara Kudus, New Comb, Jean Meuus, EW Brown, Mawaqit. Tampaknya dari semua sistem yang ada tersebut terdapat hasil yang hampir sama, yaitu ijtimak awal Ramadhan/akhir Syakban 1428 H terjadi pada hari Rabu tanggal 29 Syakban 1428 H bertepatan dengan tanggal 13 September 2007 M dengan rata-rata pukul 19- 20-an WIB. Pada saat itu matahari terbenam di hampir seluruh wilayah Republik Indonesia.

Perhitungan ‘Urfi

Hisab ’urfi adalah sistem perhitungan kalender yang didasarkan pada peredaran rata-rata bulan mengelilingi bumi dan ditetapkan secara konvesional. Sistim hisab ini dimulai sejak ditetapkan oleh khalifah Umar bin Khatab (17H)  sebagai acuan untuk menyusun kalender Islam abadi. Bersamaan dengan itu pula ada pendapat lain mengatakan bahwa  bahwa sistem kalender ini dimulai pada tahun 16 atau 18 H. Namun yang lebih populer tahun 17 H. Sistim hisab ini tak ubahnya seperti kalender Syamsiyah, bilangan hari pada tiap-tiap bulan berjumlah tetap kecuali bulan tertentu pada tahun-tahun tertentu jumlahnya lebih panjang satu hari. Sehingga sistim ini menurut ahli hisab tidak dapat digunakan dalam menentukan awal bulan qamariah untuk pelaksanaan ibadah karena sistem ini umur bulan Sya’ban dan Ramadhan bersifat tetap 29 hari untuk Sya’ban dan 30 hari untuk Ramadhan. Oleh sebab itu, sistem ini tidak dapat dijadikan pedoman untuk kepentingan ibadah, karena dalam ibadah sendiri yang menjadi fokus adalah posisi bulan dan matahari yang sesungguhnya.

Dalam filosofis itu muncul ketentuan-ketentuan, seperti awal bulan tahun pertama hijriah jatuh pada hari Kamis Kamis tanggal 15 Juli 622 M. Selain  itu ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa tanggal 1 Muharram jatuh pada hari Jumat 16 Juli 622 M dan 15 Juli 622M. Untuk Siklus/edarannya menggunakan daur 30 tahunan, yang kalau dikalikan jumlah harinya adalah 10.631 hari. Sama halnya dengan tahun masehi, tahun hijriah juga mengenal istilah tahun panjang dan tahun pendek. Dalam sistem kaleder hijriah selama 30 tahun tersebut terdapat 11 kali sebagai tahun panjang, yaitu; tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 15, 18, 21, 24, 26, serta 29 dan 19 tahun pendek. Tahun panjang jumlah harinya 355 hari sedangkan tahun pendek jumlahnya 354 hari. Umur bulan Zulhijjah pada tahun panjang adalah 30 hari, sedangkan pada tahun pendek 29 hari. Selanjutnya pada tahun pendek setiap bulan ganjil berjumlah 30 hari dan bulan genap 29 hari.

Menurut perhitungan kalender Hijriyah dalam sistem ini dapat dilihat dengan cara:

Jumlah hari seluruhnya sampai 1 Ramadhan 1427 H. adalah 505.916 hari, ditambah selisih tetap Masehi dengan Hijriyah 227.016 hari dan ditambah dengan selisih anggaran baru Gregorius XII sebanyak 13 hari, maka jumlah hari seluruhnya dari 1 Januari tahun pertama Masehi sampai tanggal 1 Ramadhan 1427 H adalah 732.932. Untuk menentukan hari apa tanggal 1 Ramadhan 1428 H, angka 732.932 hari dibagi 7, sama dengan 104.704 kemudian dikali lagi 7 sehingga  sisanya 4 hari. Jika menurut perhitungan Hijriyah sisa 1 dimulai hari Jumat, maka sisa 4 sama dengan hari Selasa. Untuk mengetahui tanggal masehinya diperlukan lagi hitungan: Jumlah hari 732.945 hari dibagi siklus empat tahunan (1461 hari) hasilnya 501. 501 x 4 sama dengan 2004, kemudian 501 dikali 146 hasilnya 731.961 hari. Lalu 732.945 dikurang dengan 731.961 sama dengan 984  daur. Angka 984 dikurangi jumlah hari dalam satu tahun 365 hari sisa 619, kemudian 619 dikurang 365  hari sehingga didapatkan angka 254, lalu dibagi 31 sisanya 8 bulan, juga berarti 5×31+2×30+28 dengan jumlah hari 243 hari. Kemudian 254 hari dikurangi 243 hari sisa 11 hari. 254 hari artinya 8 bulan ditambah 11 hari.  Jadi, tanggal 1 Ramadhan  1428 H jatuh pada hari Kamis  tanggal 13 September 2007.

Meskipun semua perhitungan sistem hisab sepakat menyatakan bahwa awal Ramadhan jatuh pada hari Rabu tanggal 12 September 2007, namun tidak tertutup kemungkinan terdapat ditengah masyarakat perbedaan. Maka dalam menyikapi perbedaan yang demikian kiranya kita dapat memahami dam bersikap tasamuh, karena bagaimanapun juga persoalan demikian adalah persoalan keyakinan. Dimana dalam prakteknya hal itu tidak bisa dipaksakan oleh pihak lain. Oleh sebab itu, yang mesti diperkuat adalah bingkai persaudaraan dan saling memahami sambil banyak membaca dan belajar. Karena dalam al-Qur’an sendiri dijelaskan bagaimana fenomena alam ini menjadi sumber pengetahuan, yang dalam istilah ulama tafsir disebut denga ayat-ayat kauniyah, dan hal itu bersifat empirik. Ketika ayat-ayat kauniyah ini diabaikan, maka akibatnya juga sama dengan mengabaikan ayat qauliyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: