• Hari ini

    December 2010
    M T W T F S S
        Jan »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Salam

    Assalamu'alaikum Wr. Wb
    Selamat Datang.
    Blog ini merupakan media berbagi ilmu dan informasi terutama berkaitan dengan kajian hukum Islam dan ilmu falak. Pengelola mengundang peminat dan penggiat ilmu ini untuk mendiskusikan berbagai hal. Untuk itu besar harapan pengelola pada pengunjung adanya kritikan, saran dan masukan. Terimakasih atas kunjungannya.
    Wassalam dari Bakhtiar, M.Ag

  • Kategori Tulisan

  • Arsip

Mencermati Kalender untuk Waktu Ibadah

Kemarin, (Senin/3 Agustus) Harian Singgalang pada halaman depan menulis tentang idul fitri 1430H kembali akan berbeda dibawah judul “Idul Fitri Bertikai Lagi?”. Analisa tersebut didasarkan pada dua hal, yaitu; pertama, pengumuman Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sudah menetapkan awal Ramadhan yang jatuh pada tanggal 22 Agustus 2009, sementara idul fitri jatuh pada tanggal 20 September 2009. Begitu juga untuk ‘idul adha ditetapkan 27 November 2009. Kedua, kalender yang beredar di tengah masyarakat saat ini, dimana libur idul fitri jatuh pada tanggal 21-22 September. Didasarkan pada dua sistem kalender tersebut, akhirnya disimpulkan bahwa umat Islam akan kembali berhari raya bertikai.

Dilihat dari dua versi kalender ini, tanpa melihat lebih jauh dari sistem yang berlaku agaknya memang seperti analisis tersebut, bahwa umat Islam akan kembali berbeda. Soalnya hari libur yang ditetapkan selama dua hari (21 dan 22 September), dalam putusan Muhammadiyah tidak masuk dalam yang dua tersebut.

Tulisan tersebut menarik untuk kembali dicermati terutama berkaitan dengan tanggal 21 dan 22 September 2009. Pada hari itu tanggal berwarna merah pertanda hari libur nasional. Namun, bagi umat Islam hari tersebut tidak hanya sekedar hari libur, tetapi adalah hari yang sangat berarti karena satu bulan penuh (29 atau 30 hari) sudah melaksanakan ibadah puasa. Bersamaan dengan itu pula, pada umumnya dikalangan umat Islam kalender yang beredar  secara umum terlanjur dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan ibadah. Pada hal kalau dicermati lebih dalam lagi, ternyata kalender tersebut tidak cocok untuk dijadikan sebagai pedoman dalam beribadah. Lagi pula ulama hisab dari berbagai aliran juga sepakat menyatakan bahwa untuk kepentingan ibadah yang digunakan adalah kalender yang didasarkan pada faktual bulan. Artinya, didasarkan pada posisi bulan yang sesungguhnya baik yang cenderung menggunakan rukyat sebagai metode penetapan awal bulan maupun hisab.

Dalam perhitungan yang digunakan dalam kalender yang umumnya beredar umur bulan qamariah, dipatok sama dengan bulan masehi, yaitu 29 dan 30 hari secara terus menerus. Secara faktual bulan, itu tidak mungkin terjadi. Dalam ilmu falak sistem yang seperti itu disebut hisab ‘urfi.

Hisab ‘urfi adalah metode penentuan awal bulan dengan berdasarkan pada perhitungan rata-rata hari dalam satu bulan dan rata-rata hari dalam satu tahun, bukan berdasarkan pada gerak faktual bulan yang sesungguhnya, tetapi dengan cara mendistribusikan jumlah hari dalam satu tahun kedalam bulan-bulan hijriah atas dasar pematokan usia bulan-bulan tersebut. Pada ranah praksis biasanya pematokan tersebut  dilakukan secara berselang-seling antara 30 dan 29 hari. Caranya dengan menetapkan bulan berurut ganjil dan bulan genap. Bulan yang kebagian nomor urut ganjil umurnya 30 hari sedangkan yang berurut genap dipatok menjadi 29 hari.

Oleh sebab itu, bulan 1 (Muharam), bulan 3 (Rabiul Awal), bulan 5 (Jumadil Awal), bulan 7 (Rajab), bulan 9 (Ramadan), dan bulan 11 (Zulqaidah) adalah bulan-bulan yang mendapat penetapan usia 30 hari. Sedangkan bulan 2 (Safar), bulan 4 (Rabiul Akhir), bulan 6 (Jumadil Akhir), bulan 8 (Syakban), bulan 10 (Syawal) dan bulan 12 (Zulhijah) adalah bulan-bulan yang ditetapkan berusia 29 hari.

Khusus bagi bulan Zulhijah usianya tidaklah kontinyu seperti bulan-bulan yang lain melainkan kadang 29 hari dan bisa juga 30 hari. Untuk tahun pendek (basitat) mendapat jatah 29 hari, sementara tahun panjang (kabisat) usianya ditetapkan 30 hari.

Rata-rata hari dalam satu bulan dalam metode ini adalah 29,5 hari 44 menit dan ini merupakan umur dasar bulan. Dalam usia yang seperti itu, masih menyisakan sekitar 2,8 detik. Sisa ini kelihatannya diabaikan saja karena diasumsikan angka tersebut sangat kecil dan tidak begitu berarti. Atau dengan bahasa lain dapat dikatakan bahwa penetapan kalender berdasarkan hisab ini didasarkan pada perjalanan sinodis bulan di langit mengelilingi bumi. Dimana perjalanan tersebut berlangsung  selama + 29,5 hari 44 menit 2,8 detik (29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik).

Berdasarkan inilah dipatok rata-rata hari dalam satu tahun adalah 354 hari 528 menit. Umur ini didapatkan dari hasil 29,5 hari x 12 kemudian ditambah 44 menit x 12. Hasilnya didapatkan selama 354 hari ditambah 528 menit (354 hari 528 menit). Oleh karena jumlah hari yang menjadi usia bulan itu haruslah berupa bilangan utuh, bukan pecahan seperti 29,5 hari, maka caranya melalui mengalikan 2 sehingga hasilnya menjadi 59 hari. Ini usia dua bulan. Lalu yang 30 hari lagi didistribusikan kepada bulan ganjil dan yang 29 hari kepada bulan genap. Jadi, rata-rata usia bulan 29,5 hari itu, untuk bulan ganjil dijadikan 30 hari dengan mengambil setengah hari dari rata-rata usia bulan.

Untuk umur bulan yang bernomor urut genap ditetapkan  29 hari dengan cara mengurangi setengah hari dari usia rata-rata bulan. Dengan demikian jumlah hari dalam satu tahun hijriah seluruhnya adalah 6 bulan ganjil x 30 hari ditambah 6 bulan genap x 29 hari sama dengan 354 hari. Inilah jumlah hari dalam satu tahun hijriah menurut hisab urfi. Jumlah hari setahun ini lebih dikenal dengan tahun pendek (basitat).

Maka setelah pengalian tersebut di atas, masih ada sisa  44 menit, dan itu terus terjadi pada setiap bulannya. Kelebihan tersebut jika digenapkan menjadi satu tahun, maka akan menjadi 528 menit. Apalagi kalau digenapkan selama  3 tahun jumlahnya akan membengkak menjadi lebih besar (528 x 3 =1584 menit. Satu hari =1440 menit). Sisa yang demikian dalam tempo tiga puluh tahun akan menjadi 15840 menit (30 x 528 = 15840), atau genap 11 hari (15840 : 1440 =11 hari). Artinya, hasil pengalian tersebut akan tersisa 11 hari ini. Sisa tersebut juga  haruslah didistribusikan ke dalam tahun-tahun selama periode 30 tahun dengan catatan  masing-masing tahun ditambahkan satu hari. Diantara bulan yang mendapat jatah tambahan 1 hari dalam suatu tahun itu adalah bulan penutup tahun, yaitu Zulhijah. Atas dasar inilah umur bulan Zulhijah kita temukan dalam kalender yang umumnya digunakan saat ini pada tahun-tahun tertentu usianya menjadi 30 hari. Cara inilah yang kemudian disebut dengan  tahun kabisat.

Diantara tahun-tahun yang mendapatkan tambahan 1 hari dalam periode 30 tahun itu adalah tahun-tahun yang angkanya merupakan kelipatan 30 ditambah 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, dan 29. Misalnya kelipatan 30 yang pertama dari tahun hijriah adalah tahun 30 H (zaman Khalifah Usman Ibn Affan). Maka tahun kabisatnya adalah tahun 32, 35, 37, 40, 43, 46, 48, 51, 54, 56, dan 59. Sekarang kita telah melewati kelipatan 30 yang ke-47. Kelipatan 30 yang ke-47 itu adalah tahun 1410 H. Maka tahun kabisatnya adalah 1412, 1415, 1417, 1420, 1423, 1426, 1428, 1431, 1434, 1436, dan 1439. Kelipatan 30 yang ke-50 dari tahun hijriah adalah tahun 1500 H yang akan datang. Maka tahun kabisatnya adalah tahun 1502, 1505, 1507, 1510, 1513, 1516, 1518, 1521, 1524, 1526, dan 1529. Begitulah selanjutnya.

Jadi, dalam periode 30 tahun terdapat 11 tahun kabisat dengan tahun basitatnya 19 tahun. Jumlah hari dalam rentang satu kelipatan 30 tahun adalah 10631 hari. Jumlah ini merupakan hasil penjumlahan 19 tahun basitat x 354 hari kemudian ditambah 11 tahun kabisat x 355 hari hasilnya 6726 hari + 3905 hari = 10631 hari.

Atas dasar itu menurut hisab urfi jumlah hari dalam satu tahun untuk tahun basitat adalah 354 hari, dan tahun basitat itu ada 19 tahun selama satu periode 30 tahun. Selain itu, jumlah hari dalam satu tahun untuk tahun kabisat adalah 355 hari, dan tahun kabisat itu ada 11 tahun dalam satu periode 30 tahun. Kemudian jumlah seluruh hari dalam satu periode 30 tahun adalah 10631 hari. Selanjutnya tahun kabisat adalah tahun-tahun kelipatan 30 ditambah 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, dan 29. Sementara umur bulan dalam 1 tahun menurut hisab urfi berselang-seling antara 30 dan 29 hari dan bulan-bulan yang bernomor urut ganjil dipatok usianya 30 hari serta bulan-bulan bernomor urut genap dipatok usianya 29 hari, kecuali bulan Zulhijah, pada setiap tahun kabisat diberi tambahan umur satu hari sehingga menjadi 30 hari. Dengan dasar perhitungan semacam itulah maka tidak bisa dijadikan patokan dalam penentuan pelaksanaan ibadah seperti puasa, idul fitri dan ’idul adha. Wallahu a’lam.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: